Risiko Kematian Dini dan Aneka Tantangan Menjadi Ayah Tunggal

Beban yang diemban oleh ayah tunggal dapat memicu risiko kematian lebih dini dibanding ibu tunggal atau ayah berpasangan.
tirto.id – Semenjak istrinya sakit dua tahun silam dan akhirnya meninggal hampir setahun lalu, rutinitas harian Angga Pratama (28) berubah. Ia mengambil porsi besar dalam pengasuhan anak, dibantu oleh seorang pengasuh. Bapak dari Melody (3) ini mengatakan, awal-awal mengurus anak secara penuh, ia sempat kewalahan.

“Pernah saya merasa sangat lelah sepulang kerja. Waktu itu, anak saya rewel dan nggak berhenti menangis sampai akhirnya memicu emosi saya,” ungkap Angga. Ia lanjut bercerita, setelah memarahi Melody, ada rasa bersalah yang begitu besar menghinggapinya. Terkadang ia menangis bila melihat anaknya sedih setelah dia bentak. Hal inilah yang kemudian membuatnya ragu bisa menjalani peran sebagai ayah tunggal dengan mudah.

“Mau sesabar apa pun, saya nggak akan pernah bisa menggantikan istri saya sebagai ibu, mau sehebat apa pun saya menjadi seorang ayah,” imbuhnya.

Keletihan secara emosional dan perasaan kewalahan juga dipengaruhi oleh tidak adanya campur tangan orangtua Angga dalam mengasuh anak atas pilihan laki-laki itu sendiri. Sesekali memang kakek-nenek Melody menjenguk, tetapi hanya sebatas memantau kabar anak dan cucunya.

Kepadatan aktivitas Angga juga berdampak terhadap pola makan Melody. Diakuinya, saat masih hidup, sang istrilah yang rajin mencatat menu makan untuk Melody sehari-hari. Detail kadar gizi yang diasup Melody juga tak luput dari perhatian sang istri. “Sejak istri saya meninggal, saya merasa tidak bisa menggantikannya dalam hal ini [mengawasi menu makan dan asupan gizi Melody]. Ini bukan masalah enteng buat saya,” kata Angga.

Kini, Angga biasanya hanya berpesan ke pengasuh Melody untuk memberi anaknya makan yang banyak. Makanan siap saji semacam sosis atau nugget beserta sayur sop menjadi menu standar untuk sang putri.

Peran sebagai ayah tunggal yang dijalani Angga juga berefek terhadap kesehatannya sendiri. Ia menyatakan jadi lebih sering sakit belakangan ini karena banyaknya tugas sebagai orangtua yang harus dilaksanakan sendiri. Bukan hanya aspek fisik yang terimbas dari rutinitas hariannya sekarang, tetapi juga psikis. Angga berujar, “Banyak hal tentang mengurus anak yang nggak bisa saya share ke orang lain seperti saat istri masih ada. Ini berpengaruh ke kesehatan pikiran saya.”

Riset tentang Ayah Tunggal

Pengalaman Angga sebagai ayah tunggal sedikit banyak beririsan dengan temuan penelitian Maria Chiu dkk. Pada pertengahan Februari ini, studi mereka yang menyoroti risiko sakit dan kematian ayah tunggal yang lebih besar dibanding orangtua lengkap dan ibu tunggal dimuat di jurnal The Lancet. Maria Chiu dari Institute for Clinical Evaluative Sciences, Toronto, bersama rekan-rekannya membuat studi ini setelah melihat peningkatan jumlah rumah tangga dengan orangtua tunggal di berbagai negara.

Di Amerika Serikat, berdasarkan survei Pew Research Center, jumlah rumah tangga yang diisi orangtua tunggal meningkat hingga sembilan kali lipat sejak tahun 1960 hingga 2011: dari 297.000 menjadi 2.669.000 rumah tangga. Dari jumlah yang disebutkan untuk tahun 1960, 14 persennya diisi oleh ayah tunggal. Sementara dari statistik rumah tangga berorangtua tunggal yang terakhir, jumlah ayah tunggal mencapai 24 persen.

Di samping alasan meningkatnya jumlah rumah tangga berorangtua tunggal, penelitian Chiu juga dilakukan karena studi-studi terdahulu lebih banyak berfokus kepada ibu ketimbang ayah tunggal. Dengan mengambil data dari Canadian Community Health Survei dan data self-report, mereka mengomparasi kondisi kesehatan 871 ayah tunggal dengan 4.590 ibu tunggal, 16.341 ayah berpasangan, dan 18.688 ibu berpasangan.

Dari studi mereka ditemukan, angka kematian ayah tunggal tiga kali lipat lebih tinggi dibanding ibu tunggal dan ayah berpasangan. Risiko kematian ayah tunggal pun lebih besar daripada dua kelompok sampel lainnya.

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan kematian dini ayah tunggal menurut Chiu dkk. Pertama, gaya hidup tidak sehat termasuk minimnya konsumsi buah dan sayur serta intensitas minum alkohol yang cukup tinggi setiap bulan.

Selain faktor gaya hidup, Chiu dkk. juga menyebutkan faktor psikis yang berpengaruh terhadap kesehatan ayah tunggal.  Dibanding ibu tunggal dan orangtua lengkap, mereka cenderung memiliki lebih sedikit relasi dengan orang-orang yang bisa mendukung kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraannya.

Tidak sedikit pula ayah tunggal yang menjadi stres atau merasakan kesepian berkepanjangan setelah ditinggal pasangan. Menurut studi-studi sebelumnya, rasa kesepian yang mendominasi seseorang berasosiasi dengan gangguan tidur, tingkat hormon stres yang lebih tinggi, gangguan sistem kekebalan tubuh, penurunan kemampuan kognitif, dan memicu penyakit jantung.

Lebih lanjut Chiu dkk. menyatakan, kesadaran laki-laki akan gejala penyakit cenderung lebih rendah dibanding perempuan. Ketika mereka abai menjaga kesehatan dan enggan mendatangi dokter saat gejala-gejala penyakit timbul, risiko kematian pun semakin meningkat.

Data yang didapat Chiu dkk. memang menunjukkan risiko sakit dan kematian ayah tunggal. Kendati demikian, mereka tetap merekomendasikan dibuatnya penelitian lebih lanjut terkait penyebab kematian objek studinya.

Risiko Kematian Dini dan Aneka Tantangan Menjadi Ayah Tunggal

Tantangan-Tantangan Menjadi Ayah Tunggal

Perkara mengabaikan kesehatan pribadi pada ayah tunggal bisa disebabkan berbagai hal, salah satunya adalah tanggung jawab berlapis yang mesti mereka emban. Di satu sisi, mereka mesti bekerja supaya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan si anak, sementara di lain sisi, mereka tetap harus menyediakan waktu bersama anak agar bisa menjalin relasi baik dan mengikuti perkembangannya. Kesibukan di ranah profesional dan domestik seperti ini membuat waktu mengurus kesehatan fisik dan psikis ayah tunggal kian menipis.

Waktu yang begitu terbatas untuk mengurus berbagai hal tak pelak membuat sebagian orangtua tunggal mengambil jalan cepat menyediakan makan buatnya dan si anak: mendatangi restoran cepat saji. Salah satu orangtua tunggal, Dan Erickson, mengatakan di The Good Men Project,  ada kalanya orangtua mengajak anaknya makan di McDonalds atau Pizza Hut karena mereka kehabisan waktu untuk berbelanja atau memasak.

Bagi orangtua tunggal yang punya cukup uang untuk membayar pengasuh atau asisten rumah tangga, menyediakan makanan segar dan sehat setiap hari tidak menjadi soal. Namun, lain cerita bila mereka berduit pas-pasan.

Erickson juga menyinggung soal latihan fisik yang penting dilakukan oleh orangtua tunggal bersama anaknya. Karena berjuang sendiri, orangtua tunggal dituntut untuk tetap sehat. Di samping itu, mereka pulalah yang juga mesti berperan menjaga kesehatan anaknya dengan mengajak si anak berolahraga secara rutin.

Kendati demikian, ada waktu-waktu ketika Erickson hanya ingin membiarkan anaknya bersantai-santai di rumah dan ia sendiri hanyut dalam pekerjaan. Semakin padat aktivitas kerja, semakin sedikit waktu yang diluangkan bersama anak untuk berolahraga, sehingga semakin besarlah kemungkinan kesehatan kedua pihak menurun.

Soal ayah tunggal yang mesti tetap bekerja juga berkaitan dengan ekspektasi masyarakat terhadap laki-laki. Mandiri dan tangguh menghadapi macam-macam persoalan menjadi sifat yang dilekatkan kepada mereka. Karenanya, meminta bantuan kepada keluarga, rekan, atau support group bisa menjadi momok bagi sebagian ayah tunggal, betapa pun mereka kewalahan menjalani perannya.

Peran gender tradisional yang berlaku di masyarakat juga mendatangkan tantangan lain bagi ayah tunggal. Terkait hal ini, tesis Heidi R. Esbensen yang dipublikasikan pada tahun 2014 memuat sejumlah temuan menarik berdasarkan pengalaman empat belas ayah tunggal yang ia wawancarai di Portland, Oregon.

Bagi sebagian besar responden Esbensen, menunjukkan emosi kepada anak secara gamblang bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, mereka dibesarkan untuk menjadi tangguh dan tidak emosional. “Sulit untuk memastikan Anda menjadi lebih ngemong, karena itu sangat sulit bagi laki-laki dan saya tidak tahu kenapa,” aku Jason (42), ayah dari anak usia 8 dan 10 tahun, kepada Esbensen.

Jason masih percaya dirinya harus tampil tegar di depan orang-orang, tetapi pada saat bersamaan, ia dituntut untuk menjadi lebih sensitif, khususnya setelah ia memiliki anak perempuan. “Hal ini nyaris memaksa Anda untuk menjadi bi-polar,” imbuhnya, merujuk pada pergantian “mode tegar” dan “mode lembut” yang terus menerus ia lakukan selama melakoni peran ayah tunggal.

Informan Esbensen lainnya, Tony (46), menunjukkan pengalaman lain. Ia memang tidak kesulitan menunjukkan perhatian kepada anaknya melalui kontak fisik. Namun, urusan bicara dari hati ke hati dan memanjakan anak masih menjadi PR bagi bapak dari bocah usia 5 ini.

Strategi Mengasuh Anak ala Ayah Tunggal

Tanggung jawab menjadi ayah tunggal yang tidak enteng menuntut mereka yang berpredikat demikian untuk pintar-pintar mencari strategi mengasuh anak. Untuk menghindari pelampiasan emosi kepada anak selepas letih bekerja, biasanya Angga memilih pulang lebih larut dari kantor. “Saya menelepon pengasuh Melody dulu untuk menanyakan apakah anak saya sudah tidur,” terang Angga. Ia mengambil pilihan menghindari bertemu dengan Melody ketika emosi karena ia sendiri merasa belum mampu mengontrol efek dari keletihan kerja.

Perkara meluangkan waktu berkualitas, Angga menyatakan selalu menyediakan dua jam bersama Melody sebelum berangkat ke kantor dan durasi yang sama sepulang bekerja. Beruntung lingkungan kantor Angga cukup permisif kepada karyawan yang sudah memiliki anak sehingga sesekali, Melody pun diajak Angga ke tempat kerjanya. Pada akhir pekan, ia selalu mengajak Melody ke mana pun ia pergi. Setali tiga uang dengan lingkungan kantor, lingkaran pergaulan Angga pun cukup mendukung ketika ia memilih mengikutsertakan Melody dalam aktivitasnya bersama kawan-kawan.

Ketika ada hal yang belum begitu dipahaminya terkait pengasuhan anak, Angga mengandalkan saran dari teman-temannya yang juga sudah berpengalaman dengan anak. Kemudahan pencarian informasi parenting via internet juga memberi sokongan tambahan bagi laki-laki ini ketika menghadapi Melody.

Sebagian ayah tunggal merasa kikuk saat membesarkan seorang putri. Namun, Angga menceritakan pengalaman berbeda terkait pengasuhan anak yang berbeda jenis kelamin dengannya. Untuk masalah memperkenalkan organ tubuh pibadi anak misalnya, Angga tidak canggung dan ragu untuk mengingatkan Melody setiap habis mandi,

“Kalau cewek, pakai handuknya harus dari dada sampai bawah ya, Nak. Soalnya, [bagian dada hingga lutut] cewek nggak boleh kelihatan orang lain. Nanti kalau kamu sudah sekolah, Papi juga nggak boleh mandiin kamu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here