Kolaborasi Label Mewah dengan Seniman Jalanan

Meski tampak berasal dari dunia yang berbeda, ada beberapa kolaborasi merek fesyen mewah dengan para seniman jalanan.

tirto.id – Pada 1980-an, kancah seni jalanan di New York mengenal nama Keith Haring. Di masa itu, Haring mencorat-coret tembok di stasiun bawah tanah. Gaya gambarnya khas: mahluk hidup tanpa organ tubuh. Kadang ada anjing yang bentuknya asimetris, kerap disebut sebagai barking dog. Tak seperti banyak seniman jalanan lain yang menggambari tembok, Haring memilih menempel kertas hitam di tembok kosong, lalu menggambarinya dengan kapur putih.

Perlahan, gambarnya mulai dikenal orang. Karyanya diangkut ke galeri seni dan museum. Gambarnya dihargai mahal, ada yang mencapai 350 ribu dolar. Karier Haring melesat dengan cepat, tetapi berhenti dengan cepat pula. Ia meninggal pada 16 Februari 1990 di usia 31 tahun. Namun, layaknya karya bagus yang selalu menemukan jalan untuk jadi abadi, karya Haring terus hidup di berbagai medium.

Baru-baru ini, Winnie Harlow, model penderita vitiligo —penyakit kehilangan pigmen kulit— tampil dalam peragaan busana koleksi terbaru Coach, label fesyen New York, Amerika Serikat. Ia mengenakan rok terusan dengan motif sosok yang tengah berdansa karya  Haring.

Stuart Verve, direktur kreatif Coach, menjadikan karya Haring sebagai fokus koleksi musim semi 2018. Lewat rilis media, Stuart menganggap karya Haring cocok dengan tema besar koleksi yang menyorot nostalgia gaya populer kota New York. Kini koleksi terbaru Coach sudah tersebar di berbagai negara termasuk Indonesia.

Gambar Haring mulai dikenal sejak ia mulai melukis di dinding stasiun subway dan papan iklan tidak terpakai. Pemilik galeri melihat hal tersebut dan mengajak Keith untuk serius memproduksi karya seni. Sebelum Coach, karya Haring turut terpampang pada koleksi label fesyen Prancis, COMME des GARCONS. Label busana kelas menengah ke atas, Uniqlo juga pernah mengeluarkan kaus bermotif lukisan Haring lewat koleksi SPRZ New York.

Karya Haring bisa terus direproduksi karena kerja David Stark:kawan Haring yang bertanggungjawab melindungi hak cipta seluruh karya Haring, mengurus lisensi penggunaan karya, dan menguangkan karya-karyanya. Setiap orang yang hendak menaruh gambar Haring pada karya mereka untuk dijual atau disebarluaskan ke khalayak, harus seizin David.

“Presiden des GARCONS menelepon saya dan berkata bahwa ia ingin bertemu. Saat kami bertemu, ia memperlihatkan desain busana. Kami langsung memilih beberapa gambar Keith dan label fesyen itu meletakkannya pada jaket dan kaus,” kata Stark dalam Highsnobeity. Menurut Stark, kolaborasi seni dan fesyen ini bisa menyatukan kolektor seni, turis, sampai anak-anak yang tinggal di daerah setempat.

Sebelum beberapa rumah mode berniat memakai karya Haring, sudah sempat ada tudingan bahwa Haring adalah seniman komersil. Saat itu, Haring membuka toko yang menjual busana dan aksesori karyanya. “Saya bisa mendapat lebih banyak uang dengan menjual karya ketimbang membuka toko. Toko ini adalah cara saya untuk menjembatani seni tinggi,” kata Haring.

“Keith mengerti cara mengkomunikasikan karyanya secara lebih luas,” kata David. Selain Keith, David juga memegang lisensi Jean-Michel Basquiat, seniman jalanan New York yang juga populer di tahun 1980an. “Bagi kami, menyimpan karya seniman seperti Jean-Michel ialah hal yang penting. Kami merasa perlu menjaga citranya dan menemukan cara apik dan relevan untuk tetap menghubungkan Basquiat dengan lanskap budaya,” kata David.

Di tahun 1983, desainer Agnès Troublé membeli foto diri Basquiat dan menaruh desain tersebut di kaus rancangannya yang kemudian jadi produk terlaris. Tahun 2006, label busana premium Valentino pernah mengeluarkan koleksi khusus Basquiat. Empat tahun lalu, Uniqlo juga mengeluarkan koleksi kaus dengan gambar karya seni seniman. Tahun lalu, label kosmetik Urban Decay mengeluarkan warna dan kemasan khusus yang terinspirasi dari gambar Basquiat.

Kolaborasi Label Mewah dengan Seniman Jalanan

Jeffrey Deitch, seorang pemilik galeri seni, berkata “Saya rasa kekuatan karya Basquiat membuat karyanya bisa digunakan dalam berbagai bentuk. Karyanya mewakili visi sebuah generasi dan mengandung makna sejarah serta pesan sosial. Saat ini mungkin hanya 10 orang yang bisa membeli lukisan asli Basquiat, tetapi setiap orang bisa membeli kaus Uniqlo yang memuat gambar karyanya.”

Bulan ini karya Basquat juga bisa dilihat dalam jaket produksi Sean Jean, label fesyen milik penyanyi Sean Comb alias Puff Diddy. “Basquiat memakai karya seninya untuk mendefinisikan bagaimana menjadi orang kulit hitam di Amerika. Ia mampu bertransformasi dari seniman underground New York yang tidak dikenal kemudian menjadi seniman internasional yang dikenal dalam ranah internasional,” ujar Diddy .

Label premium lain yang pernah berkolaborasi dengan karya seniman adalah Hermès. Sejak tahun 2011 label fesyen Prancis ini berkolaborasi dengan Kongo, seorang imigran Vietnam yang kemudian menjadi seniman grafiti di Prancis. “Saya adalah seniman jalanan yang tidak memahami konsep kemewahan. Butuh waktu dua tahun untuk mendesain syal Hermès. Saya sempat mengunjungi museum Émile Hermès. Dari sana saya memahami bahwa Hermès punya ketertarikan besar pada produk ciptaan tangan dan seni. Mereka peduli pada kehidupan di sekeliling mereka,” tutur Kongo.

Hermès memposisikan diri mereka sebagai label yang memahami sejarah, keterampilan, dan sisi eksklusif dari produk berbahan kulit dan sutera. Situs Martin Roll  menulis bahwa salah satu elemen kuat dari strategi bisnis Hermès ialah konsep kolaborasi. “Hermes rutin mengundang seniman yang dipilih oleh direktur artistik. Seniman bertugas untuk mendesain produk ikonik Hermès seperti syal.”

Buku When Luxury Meets Art : Forms of Collaboration between Luxury Brands and the Arts (2013) menulis ada beberapa alasan kolaborasi produk fesyen dan seniman ini. Pertama: ia mempermudah label premium untuk menyampaikan pesan di berbagai jenis media massa. Kedua, label premium bisa menjangkau pasar baru. Ketiga, masuk di ranah seni membuat label premium tampak inovatif dan bisa memuaskan hasrat klien loyal mereka lewat inisiatif pemasaran baru.

Bosche, brand strategist The French, mengungkap kolaborasi tersebut bisa membuat label menjadi lebih dikenal. Buku karangan Olga Louisa Kastner juga menyebutkan tujuan kolaborasi ialah mempromosikan selera tinggi sebuah brand.

Buku tersebut menyebutkan bahwa kolaborasi label mode dengan seniman lebih banyak muncul setelah Louis Vuitton berkolaborasi dengan beberapa seniman populer seperti Stephen Sprouse dan Takashi Murakami pada tahun 1997. Kolaborasi ini mendatangkan keuntungan bagi rumah mode tersebut. Hal itu membuat kerja sama dengan seniman terjadi dalam kurun waktu panjang, semisal kolaborasi Louis Vuitton dengan Takashi Murakami yang terjalin selama lebih dari 10 tahun. Sebelum bekerja sama dengan Louis Vuitton, Murakami bukanlah seniman ternama. Kolaborasi membuat Murakami lebih dikenal publik.

Di Indonesia, kolaborasi desainer dan seniman pernah terjadi. Desainer muda Wilsen Willim pernah membuat kemeja yang membuat gambar seniman Eddie Hara. Ada pula Major Minor yang bekerjasama dengan Eko Nugroho. Seniman Yogyakarta yang juga sempat bekerjasama dengan Louis Vuitton untuk mendesain syal.

Kolaborasi semacam itu tak selamanya mulus. Banyak pula kritik pedas. Seniman yang berkolaborasi dengan label fesyen besar nan mewah dianggap, “menjual jiwa kepada hantu kapitalis.” Label mahal itu dianggap melakukan kolonialisme budaya. Karena itu pula para kritikus menganggap kolaborasi yang sukses baru terjadi saat seorang seniman tetap jujur dalam berkarya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here